Ads block

Banner 728x90px

Koleksi tulisan ringan


                                                           

KUMPULAN PENTIGRAF


HUJAN DESEMBER

      Dulu, aku selalu bahagia saat hujan turun karena banyak hal manis yang hadir bersamanya. Satu yang tak mungkin kulupa, kenangan manis bersama lelakiku, yang slalu membanjiriku pujian setiap kali kusajikan kopi saat hujan. Kamu bilang kopi buatanku kopi terenak sedunia. Terkesan lebay, tapi aku bahagia mendengarnya. Setiap hujan turun, kamu selalu duduk di kursi itu, di pojok ruang keluarga yang terjamah sinar matahari sepanjang hari. Santai dengan setelan favoritmu, kaos oblong putih dan kain sarung bercorak abstrak. Meskipun hanya itu, sisa ketampananmu masih kentara jelas.

      Minggu pagi adalah waktu yang selalu ditunggu. Anak dan cucu kamu wajibkan bergiliran datang berkunjung, kadang berkumpul semua. Apapun permintaan cucu-cucu selalu berusaha dipenuhi, walau kadang dipaksakan. Saat tidak ada satupun anak cucu yang sempat datang, kamu yang akan mengajakku mengunjungi mereka. Terlebih kalau sudah kangen dengan si bungsu yang bertugas di Cianjur Selatan. Sekuat tenaga kamu kerahkan jurus rayuan maut untuk meyakinkanku, bahwa kamu masih kuat menjadi driver jarak jauh. Tak sanggup aku menolak permintaan cintaku, walapun sudah terbayang perjalanan ke sana yang berkelok dengan tebing dan jurang di kiri kanan.

      Sekarang, rasanya ingin aku berlari sejauh mungkin setiap hujan turun. Mencari tempat lain yang tak terjamah hujan. Pedih yang teramat dalam membayangkan dirimu yang sedang kedinginan di bawah pusara yang belum kering itu, tanpa aku bisa menemanimu menikmati kopi terenak sedunia buatanku. Rinduku sungguh tak terukur.


IBU, AKU RINDU

        Nyaman rasanya saat lendotan di pangkuan ibu. Walaupun aku sudah terlalu tua melakukan itu,  tapi sepertinya ibu tidak keberatan menerima kemanjaan anaknya ini. Sambil mengelus-elus rambutku, seperti biasa ibu meluncurkan puluhan petuahnya. Sore itu, ibu mengatakan bahwa untuk mempertahankan sebuah rumah tangga tidak cukup dengan kesetiaan, yang lebih penting adalah kesediaan berkorban hingga akhir hayat. Spontan aku menyatakan tidak setuju, karena menurutku berkorban itu melelahkan. Ibu hanya membalas protesku dengan sebuah pertanyaan retoris “Lha, kamu nda tergiur toh nduk, dengan syurga yang dijanjikan Gusti Allah?”, aku pura-pura tidak mendengar.

        Ketukan di pintu dan suara Bapak mengucapkan salam membuyarkan obrolan kami berdua. Aku bergegas bangkit untuk membukakan pintu, tapi ibu melarang. Katanya sudah ada perjanjian tidak tertulis, saat ibu ada di rumah, setiap Bapak datang, ibu yang akan membukakan pintu. Aku kembali merebahkan kepala ke bantal ibu. Aroma khas rambut ibu tercium semerbak dari bantal, sungguh aku suka.

        Lama aku menunggu ibu kembali ke kamar, akhirnya aku tidak sabar menyusul ibu ke pintu depan. Di ruang tamu terlihat adikku sedang termenung di atas hamparan karpet yang digelar memenuhi seluruh ruangan. Aku menanyakan ibu. Adik malah memelukku sambil berlinang air mata “Ya Allah Mbak, Istigfar Mbak, tadi sore kita baru saja selesai tahlilan ibu hari ketujuh”.


KURSI TERAS DAN PIGURA

        Hari ini tepat satu hari perkawinan kita melewati kilaunya perak, dan kursi teras ini tetap setia menjadi saksi bisu perjalanan mahligai kita hingga melewati seperempat abad. Kursi teras ini pula yang selalu menemani pengembaraanku ke alam nostalgia kita. Berkelana pada kenangan masa kanak-kanak, saat kita bermain bersama di area pemakaman umum di seberang jalan rumahku. “Ngabuburit” di area pemakaman itu menjadi tradisi masa kecil yang mempertemukan kita, masa kecil yang membahagiakan. Lalu Kau persembahkan kebahagiaan itu padaku hingga kita dewasa dan menua dalam ikatan pernikahan yang indah.

      Malam ini, area pemakaman umum itu masih seperti kemarin-kemarin. Dari kursi teras, terlihat lampu jalan menerangi pemakaman, menghapus kesan sepi dan menyeramkan. Terlebih malam takbiran seperti ini, suasananya menyerupai tempat wisata. Ada sekumpulan bocah yang menyalakan petasan di sela-sela makam, bocah nakal seperti kita dulu. Ada pasangan yang duduk-duduk romantis di atas nisan menikmati udara malam, bahkan tidak sedikit penjaja makanan berjualan di area itu.

       “Kamu sedang apa sayang?” pertanyaanmu membuyarkan nostalgiaku. Kuhampiri dirimu, kulihat kamu tersenyum padaku, dari balik pigura yang terpasang lebih dari tiga tahun di dinding ruang keluarga kita. Kamu sangat tampan, berpose dengan senyum lebarmu disinari cahaya purnama memerah di atas kepalamu. Kubalas senyummu “Aku sedang merindukanmu sayang, semoga kau bahagia bersamaNya, tunggu aku di sana”.


TUJUH PURNAMA

        Di sini setahun yang lalu, disaksikan api biru yang keluar dari kawah Ijen kau ucapkan janji setiamu. Dini hari itu, kau memohon padaku untuk menunda pernikahan kita. Demi sebuah kesempatan yang kau dapat, beasiswa master degree di Perancis. Hawa dingin puncak Ijen semakin menambah kegalauan yang kurasa kala itu. Hingga kau meyakinkanku bahwa dua tahun bukanlah waktu yang lama untuk aku menunggu. “Demi masa depan kita, sayang” katamu mesra.

        Hingga bulan kelima kepergianmu, aku masih sangat yakin bahwa hatimu tetap untukku. Kekagumanmu pada kota mode itu, kesulitanmu, kebahagiaanmu, rindumu bahkan sakitmu, masih kau tumpahkan padaku. Aku merasa memang akulah belahan jiwamu.

    Tujuh purnama tlah berlalu sejak pesan terakhirku kau baca, kau tak pernah mengindahkanku lagi. Panggilanku tak pernah kau tanggapi, pesanku tak pernah kau balas. Tanpa kata perpisahan apapun, kau tutup komunikasi denganku. Aku gamang, sampai aku melihat sebuah foto di media sosial, seraut wajah yang sangat mirip denganmu, dengan nama yang tidak aku kenal. Laki-laki itu berfoto dengan seorang wanita. Foto yang romantis di bawah menara Eifel, dengan pose lengan yang melengkung, bertaut membentuk sebuah simbol cinta.


I LOVE YOU

       Malam ini udara Lembang yang biasanya dingin kurasakan begitu hangat. Kupandangi wajahmu yang sedang terlelap. Ingin aku mengatakan betapa aku sangat menyayangimu. Walau kau tak setampan dulu lagi, walau tenagamu tak sekuat dulu lagi, tapi aku tulus mencintaimu dari hati yang terdalam dan akan selalu mencintaimu.

       Aku tak kan pernah lupa betapa berat perjuangan kita berdua sampai berada di titik ini dalam hidup. Kita selalu seiring sejalan. Kemana aku pergi, kamu selalu bersamaku. Begitupun aku, tidak bisa jauh darimu. Kamu satu-satunya yang selalu mengerti kesusahanku. Disaat aku lelah, di saat aku harus bekerja hingga larut malam, kau selalu berada di dekatku. Lebih dari sepuluh tahun sudah kita bersama, kesetiaanmu selalu bisa diandalkan.

     Maafkan aku, karena aku yang sering memaksamu, sekarang kau terbaring dalam kelelahan, "Beristirahatlah sayang, Laptop tuaku".


BANG IVAN

       Kadang aku tidak mengerti dengan pendirian Bang Ivan. Kakakku itu usianya hampir 30 tahun, tapi sampai detik ini belum ada tanda-tanda ingin menikah. Secara fisik dia hampir sempurna. Dengan tinggi 182 cm dan berat 72 Kg, posturnya sangat ideal. Kulitnya sawo matang kekuningan. Wajahnya keren, dengan rahang kokoh, hidung mancung dan alis tebal. Wanita yang melihatnya dijamin langsung meleleh. Karirnya pun lumayan, dengan penghasilannya sendiri sudah mampu membeli mobil keluaran terbaru.

      Suatu pagi, kami sekeluarga dikagetkan dengan niat Bang Ivan untuk bertemu wanita pujaannya. Wajahnya sumringah saat menceritakan wanita itu, seperti ABG yang baru jatuh cinta. Kami sempat mengingatkan dia, mesti hati-hati kenal dengan orang dari sosmed. Tapi Bang Ivan meyakinkan kami bahwa dia sudah beberapa kali video call dengan wanita itu, dan dia sangat suka. Atas permintaan abang, akupun dengan senang hati menjadi drivernya menemui wanita itu.

        Aku menunggu Bang Ivan di parkiran. Baru 5 menit berlalu, Bang Ivan datang dengan tergesa sambil mengetuk-ngetuk kaca mobil. “Cepet jalan De, sebelum dia lihat kita, Abang takut, ternyata dia waria, De”. Tanpa bertanya apapun aku langsung tancap gas. Kulirik dari spion, tersirat kekecewaan di wajah kakakku itu, semoga dia tidak trauma. Mungkin inilah salah satu tantangan hidup jaman sekarang. Begitu mudahnya manusia membungkus kepalsuan dalam ruang digital.


TIGA MALAM BERSAMA ARWAH

        Kala itu tahun 1991, untuk pertama kalinya aku harus belajar hidup mandiri jauh dari orang tua. Kuliah di ibukota yang jauh dari tempat tinggalku, memaksaku untuk merasakan jadi anak kost. Beruntung aku mendapatkan tempat kost yang nyaman, aman, murah, dan yang terpenting pemilik kostnya sangat perhatian. Hal itu yang membuat kedua orang tuaku tenang menitipkan aku kost di Bang Pandi dan Mpo Ati, yang keduanya asli orang betawi.

      Minggu-minggu pertama, aku disibukan dengan kegiatan adaptasi kampus yang sangat melelahkan. Pesan ibuku agar aku tidak meninggalkan shalat tahajud, baru sempat kulaksanakan setelah rangkaian ospek berakhir. Satu kebetulan, Mpo Ati juga memiliki kebiasaan yang sama. Setiap malam saat aku mengambil wudhu, Mpo Ati selalu sudah siap menungguku di ruang mushola yang kebetulan letaknya bersebelahan dengan kamarku. Tenangnya hati bisa menghabiskan sepertiga malam ditemani orang yang sudah seperti keluarga sendiri. Tiga malam berturut-turut kami bertahajud bersama, Malam keempat aku menunggunya di mushola tapi beliau tak tampak.

        Pagi hari saat kutanya tentang kealpaannya tadi malam, Mpo Ati malah saling berpandangan dengan Bang Pandi, dan berkata padaku dengan sedikit gemetar “maap ye neng, Mpo ude lame kagak tahajud, kayaknye nyang tahajud bareng neng itu kembaran Mpo, namenye Mpo Ita, die ude enam taon meninggal, orangnye sholeha banget waktu masi idup”. Badanku bergetar hebat.


KESEMPATAN KEDUA

        Kutarik selimut tebal ini sampai menutupi seluruh tubuhku agar tidak terlalu kedinginan. Langit-langit kamar seolah meniupkan angin musim kemarau yang menusuk sampai ke tulang. Demam ini sudah memasuki minggu ke-3, sudah kuminum obat sesuai anjuran dokter, tapi sepertinya malah semakin betah di tubuhku. 

        Sesosok lelaki tak kukenal memasuki kamarku, mendekatiku. Lelaki itu berperawakan tinggi besar, mengenakan jubah putih yang menjurai sampai ke lantai. Tiba-tiba dia memegang pergelangan tanganku dengan sangat kuat hingga aku tidak bisa menggerakan tubuh. Kucoba menggeser posisi berbaring agar menjauh darinya, pegangannya tak juga lepas, malah tubuhku tertarik ke ujung ranjang. Aku mulai menangis, mungkin inilah saat-saat terakhirku. Dalam hati tidak putus mengucap asmaMu, hingga terakhir aku mengucap istigfar sekeras-kerasnya, sambil kuangkat tanganku dan kutepiskan cengkraman lelaki itu dengan sekuat tenaga. Cengkramannya terlepas, sosok itu terpental ke luar kamar. Kulihat sekelebat jubahnya sebelum dia menghilang di balik pintu kamar.

        Aku masih setengah sadar, kulihat suamiku sudah berada di sampingku, duduk di pinggir tempat tidur sambil memegangi dahiku “Kamu kenapa sayang, kamu ngigau, badanmu panas sekali”. Aku tidak bisa menjawab, hanya menangis sambil memegangi tangannya. Yang tersisa saat itu adalah tubuhku yang menggigil, ujung kaki dan tanganku dingin bagaikan es. Ya Allah, ampuni hamba, terimalah tobatku, terima kasih telah memberiku kesempatan kedua.


RIYA MEMBAWA PETAKA

        Sampai hari ini kios sayuran Mang Alo masih menjadi base camp favorit emak-emak di kampungku. Walaupun tempatnya menumpang di pos ronda untuk shift pagi, tetapi tempat ini tetap penuh pesona bagi kami. Mungkin karena bahan makanan yang dijual sangat banyak dan variatif.

       Ada seorang ibu muda yang selalu menjadi perhatian emak-emak lain saat belanja, namanya teh Yety. Wajahnya itu loh, mulus dan bening banget. Entah perawatan Korea merk apa yang dia pakai. Yang terbayang di benakku, nyamuk dari varietas apapun pasti tergelincir kalau coba-coba menclok di wajahnya. Sampai-sampai Ceu Yoyoh tidak tahan untuk menanyakan produk perawatan yang dia pakai. Kami semua pura-pura tidak peduli, padahal kepo dengan jawabannya. Satu kalimat yang aku dengar jelas "Saya mah ga pakai apa-apa Bu, cuma pakai air wudhu, saya duluan ya, udah selesai ni belanjanya". Semua sontak terdiam.

        Aku tidak tahu rasa apa yang ada di benak buibu yang mendengar jawaban teh Yety. Aku sih cekikikan dalam hati, cuma pakai air wudhu, memang selama ini kita-kita tayamum yak. Belum ada dua menit berlalu, terdengar seorang ibu berteriak "itu Teh Yety tolongin, jilbabnya nyangkut kena rante, motornya masuk got, wajahnya habis kena batu". Innalillahi.


AH, ELO

       Entah mengapa aku jadi teringat Yani, sahabatku sewaktu awal mengajar dulu. Kami masih berteman sampai sekarang, tepatnya sampai dua minggu yang lalu. Dalam banyak hal kami sering satu pandangan, mulai dari hobby, cara bergaul, selera berpakaian, sampai prinsip kami dalam menerapkan disiplin siswa. Bahkan kami memiliki penyakit yang sama, yaitu Gerd. Buatku, Yani lebih dari sekedar sahabat, karena dia orang yang paling rajin mengkritik bila aku salah.

        Setelah terpisah lama kami dipertemukan lagi di medsos, tapi semuanya terasa berbeda. Yani yang memang suka mengkritik, akhir-akhir ini kritikannya semakin menjadi. Tiga bulan lalu, dia sempat mengirimkan pesan melalui messenger “Mer, ternyata loe sekarang berisik ya di FB, ngapain loe bikin tulisan populer, menurut gue, loe mendingan nulis buku pelajaran aja kayak biasanya”. Aku jawab bahwa ini dalam rangka belajar, mudah-mudahan bermanfaat saat pensiun nanti. Satu bulan yang lalu kritikannya hadir lagi, dia mempertanyakan kenapa aku mengunggah foto-fotoku hasil editan Faceapp, menurutnya aplikasi itu hanya untuk orang yang merasa wajahnya di bawah standar dan tidak percaya diri. 

        Dua minggu lalu, saat aku sedang berselancar di dinding FB, aku menemukan sesuatu yang menarik dan harus aku sampaikan pada Yani. Langsung kukirim pesan via messenger “Yan, loe sekarang udah jadi manusia di bawah standar ya?”. Semenit kemudian FBku sudah diblokir olehnya. 


CINTA MELI

       Ada keharuan menyeruak setiap menyaksikan ikatan cinta dan kasih sayang antara Mbok Besi dan kucing kesayangannya. Sejak suaminya meninggal dunia dua tahun lalu, wanita tua penjual rampe itu menjalani hidupnya dengan hanya ditemani seekor kucing kampung yang dia beri nama Meli.

        Di tengah keterbatasaan fisik rentanya, dan penghasilan yang tak tentu, Mbok Besi tidak pernah kekurangan kasih sayang untuk diberikan pada Meli, walaupun hanya sebatas memberi makan dan memanjakan Meli di pangkuannya sambil berjemur tiap pagi. Begitupun Melli, setiap Mbok Besi akan pergi ke pasar, Meli setia mengantar “orang tuanya” itu dengan tatapan yang penuh khawatir, dan menunggunya pulang di siang hari. Hingga di satu sore suara Meli terdengar seperti menjerit meminta bantuan tetangga, ternyata memberitahukan kepergian Mbok Besi dalam tidurnya.

        Proses pemakaman Mbok Besi telah usai. Meli tak henti-henti mengelilingi gundukan tanah merah yang masih basah itu sambil terus mengeluarkan suaranya yang menyayat hati. Meli terlihat sangat terluka dengan kepergian Mbok Besi. Beberapa tetangga mengajak Meli pulang, tapi Meli malah meringkuk di dekat tetengger kayu. Dia hanya memandang orang-orang yang satu per satu pergi meninggalkan makam, dengan mata berkaca-kaca, di bawah rintik hujan yang mulai turun.


PASCA WEBINAR

      Begitu pertemuan ditutup, tanpa salam apapun aku langsung leave meeting. Badan rasanya sudah tidak karuan, kepala hingga pundak terasa pegal, pandangan mata terasa buram. Segera kurebahkan badan. Kumiringkan badan ke kanan serasa tidak nyaman, miring ke kiri pun sama. Kasur semi empuk yang biasanya jadi tempat istirahat favoritku, kali ini sama sekali tidak membantu mengurangi rasa pegalku.

     Sejak meeting berlangsung aku sudah sulit fokus, mata dan kepala terasa berat. Rangkaian panjang pelatihan ini sangat melelahkan. Dari enam pertemuan yang telah dilalui, masih tersisa dua tugas terakhir yang belum kukerjakan. Untuk saat ini aku hanya ingin istirahat, kutarik nafas panjang, kucoba memejamkan mata.

        Samar terlihat si bungsu menghampiriku dan mengoyang-goyangkan bahuku dengan lembut “Ma, kalau mau tidur, earphone sama kacamatanya dilepas dulu, nanti pegel….” Kuraba kepala, ternyata pegal ini karena aku tidur dalam keadaan berkacamata dan earphone besar menempel di kepala menutupi telinga. Mati rasa.


JIWA YANG BEBAS

      Tak ada kata takut dalam kamus hidupnya, tak pernah ada gentar dalam jiwanya, tak pernah terlintas bagaimana hancurnya nasib anak bangsa karena ulahnya. Menurutnya bisnis adalah bisnis, hasil dan keuntungan adalah tujuan utamanya. Orang di luar sana mungkin hanya geleng-geleng kepala melihat sepak terjangnya. Karena kenekatannya, tahun itu Jhony ditangkap aparat untuk ketigakalinya, akibat kasus penyelendupan jutaan butir ekstasi ke tanah kelahirannya.

        Entah apa yang terjadi dalam jiwanya, saat raga terperangkap dalam ruang penjara yang pengap. Syair kebenaran dia lantunkan hingga membuat beberapa oknum terusik ketenangannya. Di antara riuh gonjang ganjing pro kontra hukuman mati di negerinya, muncul pula cerita getir, miris, sekaligus menggelikan dari kisah seorang terpidana gembong Narkoba, Jhony. Kicauannya seolah menjadi supersonic yang segera mempertemukan dirinya dengan hembusan nafas terakhirnya.

        Hari masih gelap saat beberapa petugas menjemput Jhony ke selnya. "Sebentar lagi Saudara akan menghadap Tuhan, persiapkan diri Saudara baik-baik". Kata-kata itu seharusnya sudah cukup untuk membunuh seorang manusia, tapi Jhony sudah mempersiapkan diri untuk mendengar itu sejak pemberitahuan eksekusi mati dirinya. Dengan tegar Jhony berjalan mengikuti langkah petugas, baginya sudah tidak penting lagi berapa jarak antara kematian dengan dirinya, kepasrahan sudah dalam genggamannya. Itulah akhir dari perjalanan panjangnya. Elang di langit mengiringi senyuman bahagia di wajah Jhony yang telah pergi tanpa sepatahpun kata perpisahan terucap.


No comments:

Post a Comment